Judul buku : Di Atas Tumpukan Jerami
Penulis : Muhajir Arrosyid
Penerbit : Kontak Media, Semarang
Tebal : 100 Halaman
Diresensi : Farida Utami Purnomo
Dewasa
ini banyak novel-novel yang menceritakan tentang kemewahan, gemerlap
metropolitan juga pemandangan alam yang mahal jika kita ingin menikmati.
Kehidupan seperti itu banyak dipilih untuk dijadikan cerita-cerita khayal
penulis. Jarang penulis yang menceritakan hal-hal natural ataupun ndeso sebagai objek coretan tintanya.
Berbeda dengan Muhajir Arrosyid, alumni IKIP PGRI Semarang angkatan tahun 2000
ini menghadirkan kumpulan cerita pendek yang menggambarkan cerita natural dan ndeso dari desa asalnya yakni Dukuh
Cabean Desa Sidorejo Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak.
Buku
ini merupakan kumpulan dari cerita pendek yang mengisahkan kehidupan sederhana
Dukuh Cabean yang memberikan ingatan kepada pembaca bagaimana indahnya hidup
dengan kesederhanaan, saling menghargai dan menggapai cita setinggi ada dalam
kehidupan di desa.
Cerita-cerita
yang diusung begitu ringan, menceritakan masalah-masalah nyata yang ada di
desa, misalnya bekerja di sawah, di pabrik, keinginan untuk menjadi PNS,
penyanyi dangdut yang hamil di luar nikah, keinginan orang tua agar anaknya
segera menikah dan cerita menarik lainnya yang membuat pembaca terbawa oleh
suasana cerita. Tidak hanya mengenai keluarga, ada juga cerita cinta yang dapat
membuat hati terenyuh karena ketulusannya.
Banyak
nilai-nilai moral yang dapat kita ambil di dalam buku ini. Ceritanya tersusun
dengan runtut, tetapi ada sedikit kekurangan mengenai tokohnya, misalnya ada
dua judul cerita yang berbeda, tetapi nam tokohnya sama yaitu Tunu, itu akan
membuat pembaca menjadi bingung. Kemudian dalam judul Menggambar Bulan dalam
Gendongan, sangat tidak mungkin seorang yang mendapatkan peruntungan yang besar
disebabkan oleh anak kecil yang menggambari tembok rumahnya. Bukankah semua
yang ada di dunia ini baik rezeki, usia, kesehatan itu atas kehendak Tuhan? Dan
semua itu kembali pada kepercayaan
masing-masing. Walaupun terdapat kekurangan, tetapi dengan kelebihannya
buku ini tetap menarik untuk dibaca.
terimakasih
BalasHapus